Agama kalian,Agama yang Satu

Ceramah : Asy-Syekh Al-Akbar Muh. Daud Dahlan
Pada pertemuan dengan Mursyid Tarekat Syathariyyah,
Tuangku Mudo Syekh Faishal Hamidi
Palembang, Januari 2007
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Negara kita sekarang menghadapi banyak persoalan, di antaranya yang tak bisa dielakkan adalah kehendak Allah menumpahkan musibah di berbagai wilayah. Sejak adanya tsunami terbesar di dunia, gempa bumi, kelangkaan sumber energi, krisis moral para tokoh atau petinggi Negara, hingga jatuhnya pesawat. Adanya larangan beroperasi kapal-kapal di berbagai wilayah perairan Indonesia belakangan ini saja menandakan kekhawatiran yang luar biasa terhadap gejala alam yang mengalami banyak perubahan akhir-akhir ini. Semua itu adalah tanda-tanda kemurkaan Allah terhadap negeri ini.
Di sisi lain umat Islam berdiam diri dengan usaha umat lain yang tak henti-hentinya mengadakan provokasi terhadap generasi muda Islam, baik segi budaya atau pemikiran. Mereka mencekoki dengan budaya yang buruk, mendengungkan prinsip persamaan hak antara pria dan wanita, pemikiran yang menyesatkan bahwa manusia itu berasal dari monyet. Termasuk kebijakan demokrasi. Padahal kebijakan demokrasi itu merupakan kebijakan alternatif.
Umat Islam menghadapi kondisi yang sangat dilematis. Segala segmen kehidupan umumnya sudah dikuasai oleh orang-orang di luar Islam. Dari sisi ekonomi, militer, politik, dsb.
Sikap umat Islam menghadapi umat lain menjadi serba salah. Jika umat Islam bersikap lembut, umat lain mempengaruhi aqidahnya. Jika bersikap keras akan menyebabkan umat lain mempertanyakan visi ajaran Islam sebenarnya.
Umat Islam (bangsa Indonesia) tidak lagi menaruh kepercayaan dengan individu lainnya. Antara satu golongan dengan golongan yang lain saling menuding kesesatan. Akhirnya umat Islam tidak bisa berada dalam satu kepemimpinan karena masing-masing memberikan travel warning ‘hati-hati dengan kelompok ini dan itu!’.
Kasus Idul Fitri hingga Idul Adha yang pelaksanaan berlainan menunjukkan keprihatinan umat Islam yang tidak mempunyai seorang pemimpin yang menyatukan keputusan umat. Adanya pilihan (berdasarkan sabda Nabi Saw) dalam menentukan awal / akhir Ramadhan seharusnya membuat umat ini bersikap toleran terhadap perbedaan hasil pengamatan. Namun bukan dengan adanya perbedaan itu kita bersikukuh menilai pendapat golongan lain keliru. Adanya pilihan menunjukkan relativitas pendapat. Di sinilah kita memerlukan sosok yang menentukan pilihan tersebut, bukan masing-masing kelompok Islam.
Ketentuan waktu dalam sebulan (dalam konteks penanggalan Hijriyah) antara kemestian 29 atau 30 hari, bukanlah hal yang mutlak. Tidak mesti terjadi perbedaan dalam penentuan tersebut jika perbedaan itu bisa ditentukan dengan suatu kebijakan (karena masih relatif) yang bersifat musyawarah. Namun karena masing-masing merasa menjadi pemimpin, dan suatu kepemimpinan tidak percaya dengan kepemimpinan lainnya - apalagi setiap kepemimpinan tidak memiliki hak otoritas terhadap kepemimpinan lainnya - maka terjadilah sikap perpecahan umat dalam mengambil berbagai keputusan.
Padahal umat ini adalah umat yang satu,
Wa-inna haadzihii ummatukum ummataw waahidatan wa ana robbukum fattaquun.
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. (Q.S. Al-Mu’minun: 52)
Kemudian mereka berpecah belah, karena masing-masing kelompok bangga terhadap apa yang ada pada dirinya. Bangga terhadap ilmunya, pendapatnya, hartanya, kedudukan yang telah dicapainya, dan prestasi duniawi lainnya.
Fataqoth-tho’uu amrohum zuburoo, kullu hizbim bimaa ladayhim farihuun.
Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka berpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Q.S. Al-Mu’minun: 53)
Memang perbedaan itu sunnatullah. Tapi, apakah hal itu merupakan sunnatullah yang baik?! Karena setelah itu Allah menerangkan akibat mereka berpecah belah,
Fadzarhum fii ghomrotihim hattaa hiin.
Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”. (Al-Mu‘minun: 54)
Ungkapan ini menunjukkan ancaman, bukan rahmat! Tidak hanya umat Islam, umat lain pun diungkapkan berpecah belah. Rasulullah Saw bersabda,
Sesungguhnya Bani Israil berpecah belah menjadi 71 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 72 golongan . Semuanya masuk ke dalam api neraka melainkan satu golongan saja, yakni jama’ah (yang bersatu dalam barisan Birokrasi Ilahiyyah). (Sunan Ibnu Majah: Juz 11)
Apakah umat Islam tidak lebih parah perpecahannya dibanding umat lainnya (berdasar hadits di atas)?
Tidak ada kelompok umat manapun yang tidak ingin ibadahnya tidak diterima Allah SWT. Bahkan semua amalnya ingin diterima.
Perpecahan ini salah satunya disebabkan oleh tidak mau saling mendengar. Meskipun mau mendengar belum tentu mau menerima. Masing-masing beranggapan bahwa apa yang dipegang atau diamalkan selama ini adalah merupakan kebenaran.
Adolf Hitler sendiri menyatakan, apabila keburukan / kekeliruan itu diungkapkan seribu kali maka ia akan menjadi sebuah kebenaran.
Sama seperti umat lainnya. Sekarang, maukah kita mau mendengar?
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy yasma’uun.
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang mau mendengar.
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy ya’qilun.
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang berakal.
Berakal saja tidak cukup.
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy yatafakkarun.
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang mau berfikir.
Berakal saja tidak cukup.
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy yattaquun.
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang bertaqwa.
************
Kultus dengan bersekutu itu berbeda. Kultus itu artinya mendewa-dewakan, mempertuhankan, mengidolakan. Yang dilarang oleh Rasulullah itu adalah menyetarakan Allah dengan makhluk dan atau menyetarakan makhluk dengan Allah.
Karena kita tidak mengerti arti Tuhan maka kita tidak bisa menilai perkara dengan ukuran semestinya. Tuhan dalam bahasa Arab adalah Rabb, yang mengandung arti Pembangun, Pembimbing, Pelindung, Pemelihara.
Kita semua sudah memiliki sifat ketuhanan. Wanafakhtu mir ruuhii (Dan Aku tiupkan Ruh-Ku [ke dalam jasad yang telah disempurnakan kejadian ketika awal penciptaan manusia])
Nilai-nilai inilah yang harus kita kumandangkan agar tidak terjadi benturan.
Mengapa menyebut ‘Sayyidina’ tidak boleh, sedangkan dirinya sendiri menghendaki adanya gelar di samping namanya. Allah memberi beliau gelar ‘habibullah’.
************
Huruf maupun imbuhan dalam Al-Quran memiliki kedalaman ilmu. Berbeda bunyi akan berbeda pula maknanya. Hal ini dapat kita simak tentang ayat yang berhubungan dengan perkara amal yang dilakukan oleh orang-orang
Ketika kita mendengar amal sholih seolah-olah kita menyandarkan kesamaan dengan makna Amilush-sholih. Keduanya adalah berbeda. Perhatikan ayat berikut:
Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi “. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (Q.S. Al-Baqarah: 11)
Berbeda makna al-Bait dengan Bait, Rijal dengan ar-Rijal.
Orang kafir pun menyatakan bahwa mereka melakukan amal shalih. Di sinilah Allah membedakan perbuatan mereka (orang kafir) dengan orang yang lurus jalannya dengan mencantumkan alif lam di depannya yang menandakan kekhususan (tertentu).
Amilush-shalih itu adalah perbuatan yang mengikuti Uswatun hasanah Utusan Allah.
Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab: 21)
Al-Idrisiyyah sebelumnya juga sama seperti kelompok tarekat lainnya, yakni mendasari ajarannya dengan pendapat-pendapat ulama terdahulu. Padahal Dienul Islam itu tidak cukup hanya dengan ditafsirkan.
Kita harus kembali kepada khithah, yakni berpedoman kepada Al-Quran. Jika kita memahami lebih dalam, ternyata kandungan ajarannya tidak bersifat abstrak tapi real (nyata), bisa dicerna oleh akal.
Adanya persamaan dan perbedaan di antara kita, mari kita berangkat dari persamaan terlebih dahulu. Kita berbenah menuju ibadah yang lurus. Sebagaimana do’a yang diajarkan kepada kita setiap shalat. Ihdinash-shirootol mustaqiim. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya siapa? Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.
Siapakah orang yang mendapatkan anugerah jalan yang lurus itu? Merekalah orang-orang pilihan, para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih.
Mengingat zaman kenabian sudah berlalu maka lentera jalan yang lurus itu dipegang oleh para Shiddiqin (orang-orang yang shiddiq).
Shiddiq berbeda dengan Haq. Haq artinya benar, dan Shiddiq artinya lurus, tepat atau akurat (pas). Bahasa keren-nya proporsional.
Benar belum tentu akurat. Belum tentu setiap Haq itu bersifat Shiddiq. Akan tetapi setiap Shiddiq itu adalah haq. Sama halnya belum tentu setiap Nabi adalah Rasul.
Seusai membaca Al-Quran, seorang Qari biasa mengucapkan ‘Shodaqallaahul ’Azhiim’. Artinya bukan ‘Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya’, akan tetapi ‘Tepatlah Allah Yang Agung’.
Shadaq itu mengandung kecermatan dan ketelitian.
“ …. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi maupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Q.S. Yunus: 61)
Pemaparan ini bertujuan untuk mengishlahkan (mendamaikan) antara kelompok Islam (tarekat) satu dengan lainnya, atau umat Islam dengan umat lainnya. Didasari keyakinan bahwa Islam itu bukan diperuntukkan bagi umat Islam saja, tapi untuk seluruh umat manusia.
Baik orang mukmin maupun kafir semuanya dalam genggaman, asuhan dan bimbingan Allah. Sebab itulah dengan adanya ketentuan berpasangan atas segala kejadian, maka orang kafir akan menjadi ujian bagi orang yang beriman, begitu juga sebaliknya. Kalau masing-masing egois tentu perseteruan tidak akan ada akhirnya.
Masalah ini harus didengungkan dan direalisasikan agar tidak menimbulkan perseteruan antara kita dengan mereka (non muslim). Agar tercipta kedamaian dalam bingkai ridha Allah.
Buat apa damai jika tidak mendapat ridha Allah. Damai itu ada baik dan buruknya, begitu pula peperangan. Salah satu hikmah terjadi peperangan mengurangi jumlah manusia yang bertambah demikian pesat. Sehingga untuk menghidupi manusia yang begitu banyak bumi mengalami korban eksploitasi manusia yang tak kunjung henti.
Saat damai populasi manusia tak terkendali. Bertambah banyak manusia menyebabkan hutan habis dibabat untuk lahan produksi. Sawah berubah menjadi pemukiman penduduk, tempat reproduksi. Hal yang kita inginkan adalah kedamaian dalam ridha Allah, atau peperangan dalam ridha Allah.
Semua perkara bisa menjadi ujian bagi kita. Jangan berkata bahwa nikmat itu bukan ujian. Bahkan kita sering tidak lulus ketika kita diuji nikmat.
Sebagai pemaparan, saat kita menerima gaji. Apakah kita akan berfikir saat menerima uang, ‘Uang ini untuk membeli makanan yang halal atau yang haram, membeli pakaian yang mengikuti Sunnah Rasul atau pakaian yang mengikuti tradisi nenek moyang’. Jadi, walaupun kita menerima nikmat dari Allah, belum tentu Allah ridha kepada kita. Inilah yang harus kita pahami bersama.
Kita harus banyak melatih (mengevaluasi) diri. Medianya adalah dzikrullah. Ada dzikir kepada Zat Allah, ada dzikir kepada Ilmu-Nya dan ada dzikir kepada Af’al-Nya.
Dengan dzikir ini diharapkan ketika kita menjalani kehidupan di dunia ini tidak kehilangan kendali, dan tetap berpegang kepada Ittabi’uu maa anzallaah. Ia tidak lupa kepada Allah meski ke manapun perginya, karena sudah dilatih dengan dzikrullah.
Inilah kebijakan Al-Islamiyyah yang dipelopori oleh Al-Idrisiyyah (nama hanya bersifat kebetulan). Kami berharap didukung oleh jama’ah Syatthariyyah (umat Islam lainnya) yang berada di hadapan kami saat ini. Rasulullah Saw sendiri memerlukan dukungan para sahabatnya yang lain. Mudah-mudahan kedatangan kami kemari sekaligus mendapatkan sahabat yang baru.
Kita sebagai umat Islam jangan merasa diprovokasi atau dicumbu rayu. Semuanya harus diterima atau dilaksanakan dengan kesadaran, bukan dengan paksaan. Bukan karena dipuji atau ‘dicubit’. Menjalankan ajaran Islam juga harus dengan kesadaran.
Nabi Ibrahim As mencontohkan perilaku yang bijaksana kepada kita ketika datang perintah Allah untuk menyembelih putranya, ‘Fanzhur maa dzaa taroo!’ Pikirkan olehmu bagaimana pendapatmu?
Pada saat kita berposisi dalam kebenaran jangan bersikap malu, dan ketika kita pada posisi salah jangan ‘cengeng’ atau mudah tersinggung. Oleh karenanya kita harus lebih banyak belajar.
Untuk menjelaskan ini memerlukan waktu yang tidak sedikit. Namun sayangnya kesempatan berbicara mengenai hal ini sangat terbatas waktunya.
Mudah-mudahan pertemuan kita ini membawa hikmah dan manfaat besar bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. di ambil darihttp://www.al-idrisiyyah.com























