<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>TASIK-NEWS.com</title>
	<atom:link href="http://tasik-news.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tasik-news.com</link>
	<description>TASIK-NEWS.com&#62;&#62;&#62;INFORMASI&#62;&#62;&#62;WAWASAN&#62;&#62;&#62;PENCERAHAN</description>
	<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 10:18:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Berjabat Tangan dengan Orang Alim</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/03/10/berjabat-tangan-dengan-orang-alim/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/03/10/berjabat-tangan-dengan-orang-alim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 10:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<category><![CDATA[berjabat tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=704</guid>
		<description><![CDATA[
Sabda Nabi Muhammad Saw:
مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا صَافَحَنِيْ وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا جَالَسَنِيْ وَمَنْ جَالَسَنِيْ فِى الدُّنْيَا أَجْلَسَهُ اللهُ مَعِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang mengunjungi orang Alim seakan-akan ia mengunjungiku, barang siapa yang berjabat tangan dengan orang Alim seakan-akan berjabat tangan denganku, barang siapa yang duduk dengan orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/03/mushafahah-300x225.jpg" alt="mushafahah" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-705" /></p>
<p>Sabda Nabi Muhammad Saw:</p>
<p>مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا زَارَنِيْ وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا صَافَحَنِيْ وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَأَنَّمَا جَالَسَنِيْ وَمَنْ جَالَسَنِيْ فِى الدُّنْيَا أَجْلَسَهُ اللهُ مَعِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِى الْجَنَّةِ</p>
<p>“Barang siapa yang mengunjungi orang Alim seakan-akan ia mengunjungiku, barang siapa yang berjabat tangan dengan orang Alim seakan-akan berjabat tangan denganku, barang siapa yang duduk dengan orang Alim seakan-akan duduk denganku, barang siapa yang duduk denganku di dunia niscaya akan didudukkan Allah bersamaku di syurga pada hari kiamat”.</p>
<p>Syekh al-Akbar Muhammad Dahlan Qaddasallaahu Sirrahu sering mengucapkan hadits ini di kala berjabat tangan dengan murid-muridnya seusai mengakhiri majelisnya.</p>
<p>Hadits ini menunjukkan adanya hubungan yang terkait dan terus berlanjut secara ruhaniyyah antara Beliau Saw dengan Ulama. Dan yang dimaksudkan adalah Ulama tertentu, bukan sembarang Ulama. Kalau hubungan Rasulullah Saw dengan Ulama pilihan tidak terputus, maka tidak terputus pula bimbingan Beliau Saw kepada umatnya hingga akhir zaman. Tentu, bimbingan itu melalui Ulama yang diwarisinya pada setiap masa. Secara lahir petunjuk umat itu melalui Nabi Muhammad Saw, hakikatnya adalah berasal dari Allah SWT. Secara lahir umat dibimbing melalui Ulama pilihan Beliau Saw, dan hakikatnya berasal dari Rasulullah Saw.</p>
<p>[Tanbihul Ghafilin, karya Syekh Abu Laits Samarqandi Rhm]</p>
<p>Subhannallah!sedekat itulah Rasulullah dengan umatnya,betapa besar karunia Allah walau dalam bentuk berjabat tangan dengan seorang ulama.Sebentar tapi dapat menembus waktu dan ruang hingga jabatan tangan itu bertemu dengan Rasul SAW.<br />
Yang menjadi renungan adalah tidak setiap ulama memiliki nilai jabatan tangan seperti di atas walau tetap memiliki nilai ibadah.Hanya ulama yang m</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Berjabat%20Tangan%20dengan%20Orang%20Alim&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F03%2F10%2Fberjabat-tangan-dengan-orang-alim%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/03/10/berjabat-tangan-dengan-orang-alim/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Madu Basa Madu Rasa</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/03/08/madu-basa-madu-rasa/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/03/08/madu-basa-madu-rasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 14:06:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[OPINI]]></category>

		<category><![CDATA[madubasa madu rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=701</guid>
		<description><![CDATA[
Minggu lalu melalui tayangan televisi kita begitu di berikan pemandangan harian kebrutalan masyarakat Indonesia.Dari mulai para pejabat di DPR yang berantem.Para pendemo yang rajin jadi tukang rusak jalan atau sekelompok mahasiswa yang ramai-ramai tawuran.
Rupanya saat ini keadaan makin ga karuan.Uger-uger adat para leluhur yang menjunjung tinggi hubungan madubasa dan madurasa dah ga di pakai lagi.
Masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/03/madu.jpeg" alt="madu" width="124" height="94" class="alignleft size-full wp-image-702" /><br />
Minggu lalu melalui tayangan televisi kita begitu di berikan pemandangan harian kebrutalan masyarakat Indonesia.Dari mulai para pejabat di DPR yang berantem.Para pendemo yang rajin jadi tukang rusak jalan atau sekelompok mahasiswa yang ramai-ramai tawuran.<br />
Rupanya saat ini keadaan makin ga karuan.Uger-uger adat para leluhur yang menjunjung tinggi hubungan madubasa dan madurasa dah ga di pakai lagi.<br />
Masyarakat jadi jenis manusia labil yang gampang panik dan beringas walau kadang ga tahu apa tujuan yang di lakukannya ,yang penting Ramai dan seruuuu!&#8230;..lumayan bisa masuk Tv&#8230;<br />
Madu basa(madu bahasa) adalah etika penyampaian ucapan yang membawa keharmonisan.Tahu menempatkan tata titi ucapan yang akan membawa lawan atau orang yang mendengarnya bisa lega dan membawa kesejukan,setidaknya menyimak dengan baik apa yang di utarakannya.Di pahami di mengerti dan di hargai sebagai martabat manusia yang beradab.<br />
Orang yang madubasa ga mudah menyinggung atau melontarkan kata-kata yang bisa membuat orang kesal atau marah.Sekalipun bahasa kecewa tapi di sampaikan dengan bijak.<br />
Kita perhatikan para pejabat yang katanya bisa menjadi contoh tauladan rakyat dan merasa mampu mengayomi rakyat begitu brutal dalam bahasa.Kemarahan dan suara lantang begitu jelas terlihat.Wajar kalau rakyatnya pun ikut-ikutan brutal.<br />
Dalam sejarah umat manusia ada kisah yang mengalir sepanjang sejarah yang terjadi pada masa Manusia Agung sepanjang zaman Muhammad SAW yang telah di jadikan contoh manusia madurasa madu basa.Beliau begitu piawai dalam menjaga etika ucapan dan etika perasaan sekalipun dalam kondisi kecewa.Berapa banyak lawan yang akhirnya tunduk dan patuh bukan karena perang tapi karena perangai manis dan ucapan menyejukan Penghulu para Nabi ini.<br />
Kita selaku umatnya telah di berikan jalan untuk mengambil tauladannya.Kita tidak bisa seperti Nabi karena bukan nabi,tapi kita adalah umat yang di bangun dan dididik oleh risalah para nabi.Yang intinya adalah membawa nilai-nilai keselamatan bagi seluruh umat manusia.Jadilah umat yang madurasa madu basa.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Madu%20Basa%20Madu%20Rasa&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F03%2F08%2Fmadu-basa-madu-rasa%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/03/08/madu-basa-madu-rasa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ajaran Dinul Islam adalah akurat dan proporsional</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/03/02/ajaran-dinul-islam-adalah-akurat-dan-proporsional/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/03/02/ajaran-dinul-islam-adalah-akurat-dan-proporsional/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 13:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=695</guid>
		<description><![CDATA[
Penerjemahan Al-Quran mesti disentuh secara poporsional, bukan emosional. Pengungkapan istilah &#8216;Maha&#8217; dalam menerjemahkan Sifat atau Nama Allah adalah bukti bahwa pendekatan umat Islam selama ini terhadap bahasa Al-Quran masih menonjolkan sikap yang emosional (berlebihan). Sikap berlebihan dalam pengungkapan makna tersebut akhirnya menimbulkan akibat yang serius berupa kekeliruan (kesesatan) aqidah yang dipegangnya selama ini.
Nilai-nilai ajaran Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/03/syekh.jpeg" alt="syekh" width="77" height="116" class="alignleft size-full wp-image-696" /><br />
Penerjemahan Al-Quran mesti disentuh secara poporsional, bukan emosional. Pengungkapan istilah &#8216;Maha&#8217; dalam menerjemahkan Sifat atau Nama Allah adalah bukti bahwa pendekatan umat Islam selama ini terhadap bahasa Al-Quran masih menonjolkan sikap yang emosional (berlebihan). Sikap berlebihan dalam pengungkapan makna tersebut akhirnya menimbulkan akibat yang serius berupa kekeliruan (kesesatan) aqidah yang dipegangnya selama ini.</p>
<p>Nilai-nilai ajaran Islam pun jika dikaji lebih dalam mengandung nilai akurasi yang tinggi, yang tidak menyia-nyiakan tata nilai yang konkrit di dalamnya.<br />
<img src="http://tasik-news.com/files/2010/03/dlima.jpeg" alt="dlima" width="123" height="107" class="alignleft size-full wp-image-697" /><br />
Bukti realistis bahwa Dinul Islam adalah suatu ajaran bernilai pasti dan konkrit adalah cerita salah seorang sahabat Nabi yang bernama Sayidina Ali Karramallaahu Wajhah. Dikisahkan oleh Ka&#8217;ab bin Akhbar. Ketika Fathimah, Putri Rasulullah saw, sekaligus istri Ali bin Abi Thalib r.a sakit, ia ditanya oleh suaminya, &#8221; Wahai Fathimah, engkau ingin buah apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku ingin buah delima&#8221;. Jawabnya.</p>
<p>Ali r.a terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uang sepeserpun. Namun, ia segera berangkat, berusaha mencari pinjaman uang satu dirham. Setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.</p>
<p>Ditengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit dipinggir jalan, maka Ali pun berhenti dan menghampirinya. &#8220;Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?&#8221; tanya Ali.</p>
<p>&#8220;Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit ditempat ini, banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau peduli kepada ku, padahali hatiku ingin sekali makan buah delima.&#8221; Jawab orang sakit tersebut.</p>
<p>Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar, sambil berkata dalam hati, &#8220;Buah delima yang hanya sebuah ini, sengaja aku beli untuk istriku, kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fathimah akan sedih sekali, Namun jika tidak aku berikan berarti aku tidak menepati firman Allah, “Terhadap peminta, Engkau janganlah menghardiknya”.(QS. Al-Dhuha: 10). Juga sabda Nabi saw, &#8220;Janganlah sekali-kali kamu menolak pengemis, sekalipun di atas kendaraan&#8221;.</p>
<p>Kemudian Ali membelah buah delima itu menjadi dua bagian, setengahnya lagi untuk Fathimah. Ia pun segera sembuh dari sakitnya. Sesampai di rumah ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya, dan Fathimah merangkulnya serta mendekapnya seraya berkata kepada suaminya, &#8220;Kenapa kamu sedih, demi Allah yang Perkasa dan Agung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu”. Dengan wajah yang cerah Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.</p>
<p>Tidak lama kemudian datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu, lalu Ali berkata, &#8220;Siapakah Anda?&#8221;"Aku Salman Al Farisi,&#8221; Jawab orang yang mengetuk pintu itu. Setelah pintu dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup, dan diletakkkan didepan Ali, lalu Ali bertanya,&#8221; Dari manakah nampan ini wahai Salman ?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dari Allah SWT untukmu melalui perantaraan Rasulullah Saw.&#8221; Jawabnya.</p>
<p>Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat didalamnya Sembilan buah delima, tetapi Ali langsung memprotes, Katanya, &#8221; Hai Salman, jika ini memang untukku, Pasti jumlahnya sepuluh.&#8221; Lalu ia membacakan firman Allah SWT, “Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya”. (Q.S. Al-An&#8217;am : 160)</p>
<p>Salman pun langsung tertawa, sambil mengembalikan sebuah delima yang masih ditangannya, seraya berkata, &#8220;Wahai Ali, demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekadar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang Engkau bacakan tadi.&#8221;</p>
<p>[Durratun Nasihin fi al-Wa'dzi wa al-Irsyad, Syekh Usman bin Hasan al-Khaubawi].</p>
<p>Islam adalah ajaran yang bersifat pasti, dan sumber ajarannya, yakni wahyu Al-Quran mesti mengandung nilai-nilai yang tidak bersifat ragu. Hal inilah yang semestinya tercermin dari bahasa Al-Quran yang mesti diterjemahkan secara akurat dan proporsional. Kenyataan ini tidak akan ada artinya jika penerjemahannya tidak menggambarkan seperti apa yang telah disebutkan tadi.</p>
<p>Pengungkapan &#8216;Maha&#8217; merupakan bentuk ketidakpastian dalam menyatakan Keagungan Sifat Allah yang sebenarnya. Karena di dalamnya mengandung makna kabur, emosional, dan tidak proporsional.</p>
<p>Kerugian yang diderita umat akibat salah penerjemahan Al-Quran melebihi dampak salah resep atau salah dosis obat yang diberikan dokter kepada seorang pasiennya. Melebihi salah resep finansial yang diungkapkan IMF kepada bangsa ini. Tentu, kerugian berupa meninggalnya seorang anak tidak kita inginkan hanya gara-gara salah resep atau dosis. Kerugian ekonomi rakyat akibat eksploitasi dana triliunan rupiah pun tidak kita inginkan akibat salah resep keuangan yang diberikan Menkeu kepada Presidennya.</p>
<p>Kerugian yang diperoleh umat jika terjadi kesalahan penerjemahan adalah tidak diterimanya persembahan amaliyyah kita kepada Allah yang menciptakan kita. Karena kita telah melakukan penyimpangan dalam &#8216;ubudiyyah, kekeliruan dalam beribadah, dan kesesatan dalam aqidah. Bagaimana mungkin Allah SWT yang senantiasa menampakkan sikap profesional dan proporsional dalam mengungkapkan hukum, ketelitian yang sangat tinggi dalam menjabarkan ayat-ayat-Nya, menerima sikap kita yang ceroboh dalam menerjemahkan wahyu-Nya.</p>
<p>Jika kita mengambil beberapa contoh dalam kehidupan ini, semua mesti dilakukan mengikuti aturan yang berlaku (telah ditentukan). Jika kita menjalankan Dinul Islam ini menurut apa yang kita inginkan maka sama seperti kita mengirim surat. Meskipun surat itu telah lengkap dengan prangko-nya, atau menggunakan jasa pengiriman barang yang profesional, namun jika alamatnya salah sedikit saja maka jangan mengharapkan surat yang kita kirim itu sampai ke tempat tujuan.</p>
<p>Jika kita komplain kepada perusahaan pengiriman tersebut dengan mengungkapkan bukti-bukti pengiriman, tetap saja akan disalahkan. Karena alamat yang dituju salah! Dan apa yang kita tuangkan dalam surat itu berupa ungkapan perasaan gembira, sedih, dan sebagainya, bahkan hingga menitikkan air mata ketika menulisnya, akan menjadi sia-sia belaka. Dan pepatah yang menyatakan &#8216;Penyesalan selalu datang terlambat&#8217; akan ia terima.</p>
<p>Begitulah dengan apa yang kita lakukan dalam ibadah kita. Setiap orang boleh merasa benar dan khusyu&#8217; dalam sholatnya. Ia boleh merasa rajin dan kuat dalam tahajjudnya. Ia sah-sah saja mengungkapkan rasa puas karena telah melakukan kebaikan ini dan itu. Tapi semuanya akan sia-sia jika aturan semestinya dalam beribadah tidak ia pahami dengan benar dan ia lakukan.</p>
<p>Seseorang yang disiplin dengan kewajiban sholatnya, sudah terbiasa mengungkapkan takbir berpuluh-puluh atau beratus-ratus kali dalam sehari. Tapi, apakah ia sudah tepat mengartikan atau memahami apa yang ia sebut itu? Apakah ia masih mengartikan &#8216;Allaahu Akbar&#8217; dengan &#8216;Allah Maha Besar&#8217;?</p>
<p>Oleh karenanya seseorang itu tidak boleh merasa puas dengan apa yang ia ketahui dan pahami. Terkadang kebenaran tertutup oleh pemahaman keliru manusia yang dibangun berpuluh bahkan beratus-ratus tahun lamanya. Maka, akan lumrah jika kebanyakan orang mengungkapkan hal atau pemahaman yang baru dari kebiasaannya sebagai perkara yang aneh, dan enggan diterima.</p>
<p>Pengungkapan kekeliruan atau kesesatan dalam penerjemahan Al-Quran berangkat dari kaidah fitrah dan sunnatullah. Semua kaidahnya logis. Jika seseorang tidak menerima kaidah logis berarti ia telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia yang diberikan akal.</p>
<p>Manusia yang memfungsikan akalnya dengan benar, akan menerima pernyataan bahwa untuk membuat suatu masakan mesti menggunakan resep yang benar, untuk mencapai kesembuhan seseorang yang sedang sakit mesti minum obat sesuai dosisnya, seorang murid sekolah mesti menggunakan rumus yang tepat untuk mendapatkan hasil hitungannya, adakalanya seseorang mesti mengetahui password untuk membuka atau menjalankan program komputer dan sebagainya. Semuanya adalah kaidah umum yang bisa diterima oleh akal.</p>
<p>2 Maret 2010</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Ajaran%20Dinul%20Islam%20adalah%20akurat%20dan%20proporsional&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F03%2F02%2Fajaran-dinul-islam-adalah-akurat-dan-proporsional%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/03/02/ajaran-dinul-islam-adalah-akurat-dan-proporsional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Lebah</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/28/belajar-dari-lebah/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/28/belajar-dari-lebah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Feb 2010 17:54:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<category><![CDATA[belajar dari lebah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini di Batu tulis Juanda 3 suasana begitu meriah.Guru tercinta Asy Syeikh Al Akbar Muhammad Daud Dahlan RA yang selama 1 bulan lebih tetirah di Pantai Cipatujah mengadakan pertemuan sebagai ajang temu kangen dengan jamaah Jakarta.Bersamaan dengan walimatusy- syafar beliau untuk umrah besok pagi.
Banyak nasihat sejuk meluncur dari bibir yang tak pernah lepas dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/02/lebah.jpeg" alt="lebah" width="140" height="133" class="alignleft size-full wp-image-693" /></p>
<p>Hari ini di Batu tulis Juanda 3 suasana begitu meriah.Guru tercinta Asy Syeikh Al Akbar Muhammad Daud Dahlan RA yang selama 1 bulan lebih tetirah di Pantai Cipatujah mengadakan pertemuan sebagai ajang temu kangen dengan jamaah Jakarta.Bersamaan dengan walimatusy- syafar beliau untuk umrah besok pagi.</p>
<p>Banyak nasihat sejuk meluncur dari bibir yang tak pernah lepas dari dzikrullah ini.Rasa haus yang di sertai kerinduan pun terobati ketika melihat wajah sejuknya.Meluluhkan kerak-kerak batin yang mengotori dinding mata hati kami yang dhaif.</p>
<p>Dari rangkaian nasihatnya ada yang begitu menggugah  kami,bagaimana kita belajar dari sekumpulan lebah yang begitu konsisten dengan system kepemimpinan yang solid,hingga hidup mereka bermanfaat tidak hanya untuk komunitas mereka tapi juga tuk mahluk lain yang kedudukannya lebih mulia yaitu manusia.</p>
<p>Beberapa karakter lebah antara lain:<br />
1. Jika mereka mencari sari bunga demi memenuhi keinginan ratunya ,bagi mereka cinta adalah memberi tanpa ragu pada sang ratu<br />
2. Jika mereka minum sari bunga ,mereka mencari minuman yang terbaik<br />
3.Jika hinggap di ranting ,mereka tidak pernah mematahkan ranting itu<br />
4.Jika mereka mengeluarkan madu,maka madu itu bermanfaat tuk mahluk hidup lain termasuk manusia.</p>
<p>Yang paling berkesan adalah mereka bekerja karena sebuah system yang mengatur mereka agar bekerja dengan kesungguhan dalam kebersamaan.Semua yang mereka lakukan demi pemimpinnya.</p>
<p>Allah memberikan sebuah gambaran bagaimana sebuah kepemimpinan yang terbangun dari kesatuan system yaitu hubungan vertikal dan horisontal.Tidak berat sebelah.Kedua hubungan di atas jika di satukan akan menjadi sebuah kekuatan yang dinamis yang akan mengarahkan siapapun pelakunya berada dalam wilayah yang akan memberikan dan mendapatkan manfaat lebih dari pemilik Hidup yang Sesungguh-NYa.Dicatat sebagai hamba yang rahmatan lil alamin.</p>
<p>Market hidu lebah adalah Ratunya.Bagaimana dengan kita?Apakah Allah sert kebijakan kepemimpinanNYa adalah market hidup kita?Kita membangun hub horisontal adalah untuk meraih manfaat ,karena Allah telah turunkan karunia banyak atas hidup kita.Dan Allah menunggu sudah sejauh mana sikap kita dalam mengembalikan semua itu untuk menggapai keridhoan-Nya.</p>
<p>Sejarah mencatat berapa banyak manusia yang hanya membangun dirinya hanya untuk hub vertikal saja dengan Allah?Yang mereka dapatkan sebatas manfaat untuk dirinya saja.Akan tetapi mereka yang membangun antara vertikal dengan horisontal secara bersamaan manfaat yang di raih lebih dari yang mereka perkirakan.</p>
<p>Contoh sederhana,ketika kita selalu ingat akan sifat Pengasihnya Allah lalu sifat itu di terapkan dalam membangun nilai-nilai keselamatan dengan sesama manusia maka karunia itu akan datang dari berbagai arah.Hidup kita akan memberikan manfaat bagi kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak.Jadi akankah lebah menjadi pelajaran bagi kita semua?</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Belajar%20Dari%20Lebah&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F28%2Fbelajar-dari-lebah%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/28/belajar-dari-lebah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Tasyakur</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/18/hikmah-tasyakur/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/18/hikmah-tasyakur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 10:24:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<category><![CDATA[tasyakur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[
By Ustad Lukmana Amir
Kemarin malam saya dengan beberapa kawan menghadiri sebuah acara tasyakuran di wilayah Cipinang Tengah, Jakarta Timur (dekat Borobudur). Salah seorang jama’ah ber-tahadduts bin ni’mah karena dikaruniai seorang putri. Dalam acara itu dihadiri beberapa tokoh Ulama dan masyarakat sekitarnya. Tak disangka Ajengan Daud Burhani hadir memberikan taushiyahnya dengan tema ‘Nilai Tasyakur atas Kelahiran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/02/syekh-amir-ym.jpg" alt="syekh-amir-ym" width="124" height="150" class="alignnone size-full wp-image-689" /></p>
<p><strong>By Ustad Lukmana Amir</strong><br />
Kemarin malam saya dengan beberapa kawan menghadiri sebuah acara tasyakuran di wilayah Cipinang Tengah, Jakarta Timur (dekat Borobudur). Salah seorang jama’ah ber-tahadduts bin ni’mah karena dikaruniai seorang putri. Dalam acara itu dihadiri beberapa tokoh Ulama dan masyarakat sekitarnya. Tak disangka Ajengan Daud Burhani hadir memberikan taushiyahnya dengan tema ‘Nilai Tasyakur atas Kelahiran seorang Anak’. Setelah bebincang-bicang rupanya jama’ah yang mengundang adalah anak didik Beliau sewaktu nyantren di Fadris.</p>
<p>Anggaplah kita semua hadir pada saat itu, ikut mendengarkannya, inilah kutipan ceramah yang saya ingat, semoga bermanfaat.</p>
<p>Nikmat Allah tidak terhitung banyaknya. Tidak ada makhluk yang mampu menghitung nikmat yang diberikan Allah SWT walaupun menggunakan mesin hitung yang sangat modern sekalipun. Dipastikan kita tidak akan sanggup. Firman Allah menegaskan: Wa-in ta’udduu ni’matallaahi laa tuhshuuhaa. [Jika kalian (mencoba) menghitung nikmat Allah niscaya tidak akan sanggup menghitungnya].</p>
<p>Sebenarnya tidak ada istilah kecil dalam kamus Anugerah-Nya. Nikmat yang kita anggap kecil itu ternyata besar  nilainya bagi kita. Kita ambil contoh: menghirup nafas, kedipan mata, atau buang angin.</p>
<p>Nafas yang kita hirup setiap saat, sepertinya tidak bernilai, namun Jika kita mengalami gangguan pernafasan, mengertilah kita akan nilainya yang sangat tinggi. Atau bagaimana jika mata kita tidak berkedip selama 3 menit saja, tentu kita akan kepayahan merasakannya. Dan kalau tidak mengedip selama 3 hari, mau nggak mau mesti dikuburkan karena itu merupakan tanda-tanda orang yang sudah mati.</p>
<p>Angin yang dibuang setiap hari adalah nikmat yang teramat besar bagi seseorang. Coba, bayangkan jika kita tidak bisa membuang angin dalam sehari semalam. Perut menjadi kembung, dan badan menjadi kurang enak serasa masuk angin.</p>
<p>Ada sebuah cerita seseorang yang melakukan operasi Caesar untuk melahirkan anaknya. Setelah selesai operasi ia dilarang makan atau minum oleh dokter. Kenapa? Jawab dokter menunggu buang angin dulu. Buang angin ini ditunggu banyak orang, karena sang ibu bisa mulai menikmati asupan makanan atau minuman. Setelah menunggu beberapa jam akhirnya terdengarlah bunyi ‘Duuuut!’ semua yang hadir di ruangan serentak mengucapkan dengan suara kencang, ‘Alhamdulillaah!’ Kata syukur keluar setelah menunggu ‘tamu’ cukup lama. Ini membuktikan bahwa yang namanya buang angin ditunggu banyak orang.</p>
<p>Jadi, suatu nikmat yang kita pandang kecil ternyata hakikatnya besar.</p>
<p>Hadirin-hadirat,</p>
<p>Apakah punya anak itu nikmat? Selama ini kita tidak menyadari kehadiran anak sebagai nikmat. Padahal jika kita memiliki harta yang cukup, tapi belum juga memiliki keturunan semuanya itu menjadi kecil nilainya.</p>
<p>Sebuah kisah, ada seseorang di Tasikmalaya memiliki tanah dan sawah berhektar-hektar, rumah dan kendaraan mewah. Tapi ia tidak memiliki seorang anak pun dari pernikahannya. Maka kekayaannya itu dianggap tidak seberapa nilainya dibandingkan hadirnya seorang anak dalam hidupnya. Oleh karenanya patutlah kita syukuri kehadiran anak dalam rumah tangga kita.</p>
<p>Kewajiban orang tua kepada anak sebagai titipan Allah itu banyak. Sejak awal muncul di kehidupan ini sang bayi sudah diperkenalkan dengan Asma Allah melalui azan. Kemudian setelah 7 hari dicukur rambutnya, ditimbang lalu dikeluarkan emas seberat rambut tersebut untuk diberikan kepada fakir miskin. Pada hari ketujuh itu sang anak di-aqiqahkan. Daging aqiqah sebaiknya tidak dimakan oleh shahibul hajat sebagai simbol pengorbaan yang dicontohkan kepada sang anak. Lalu anak dikhitan. Itulah sebagian dari kewajiban orang tua terhadap anaknya.</p>
<p>Kewajiban yang tak kalah pentingnya di samping memberikan makanan jasmani, anak mesti diberikan pendidikan yang cukup untuk mengenal dasar-dasar Agama Islam. Ia mesti mengenal Yang menciptakannya, serta para Utusan-utusan-Nya. Ia mesti mengenal perkara-perkara yang halal dan haram, dan kewajiban-kewajiban ibadah lainnya.</p>
<p>Anak di samping membawa nikmat juga bisa menjadi batu ujian bagi orang tuanya. Kehadiran anak banyak membuat ujian besar bagi orang-orang besar seperti para Nabi terdahulu. Kita ingat, Adam As diuji dengan perselisihan Qabil dan Habil, Nabi Nuh As diuji oleh anak-anaknya yang membangkang, Nabi Ibrahim As diuji untuk menyembelih anaknya, Nabi Ya’kub diuji dengan anak-anaknya yang tidak suka kepada Yusuf As dan berpisah selama bertahun-tahun, Nabi Muhammad Saw diuji dengan kematian anak-anak Beliau.</p>
<p>Pernah terjadi ketika Rasulullah Saw baru ditinggalkan putra Beliau tercinta yang bernama Ibrahim, tampak kedua mata Beliau mengeluarkan air mata. Seorang sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah mengapa engkau menangis?’ Jawab Beliau Saw, ‘Aku adalah manusia biasa yang memiliki perasaan dan kasih sayang’.</p>
<p>Dalam pertemuan itu sempat saya memperhatikan Tokoh masyarakat yang sebelum acara terlihat kaku (canggung), dan berhati-hati berbicara dengan kami yang berseragam putih-putih, berlibasut taqwa. Namun setelah saya memulai dengan pendekatan gaya betawi, dan menjelaskan sedikit demi sedikit sejarah dan latar belakang Al-Idrisiyyah, barulah ia mengerti bahwa Al-Idrisiyyah tidak sama dengan kelompok garis keras Islam yang diidentikan sebagai teroris.</p>
<p>Salah seorang Ustadz setempat yang bernama Pak Nasir mengatakan, ‘Dua hari yang lalu saya baru saja ke Tasikmalaya. Saya melewati Pesantren Fadris. Pakaiannya putih-putih kan? Kalau nggak salah letaknya di pinggir jalan. Bener ye?’ Kami menjawab, ‘Bener, nggak salah Pak ustadz!’</p>
<p>Ust. Nasir yang sering memimpin bacaan Yasin di majelis dzikir SBY ini akhirnya merasa senang berkenalan dengan kami. Acara ditutup, dan hujan deras mengiringi tamu keluar dari ruangan.</p>
<p>Banyak peristiwa yang mengindikasikan bahwa Al-Idrisiyyah belum dikenal akrab di lingkungan masyarakat. Banyak faktor yang menyebabkannya. Kalau kita menyimak perkataan Pak Nasir yang tahu tentang Pesantren Fadris dari penampilan para santrinya berbusana putih-putih di sisi jalan utama yang mengarah ke Tasikmalaya, maka hal itu merupakan salah satu hasil bimbingan Guru kita Syekh al-Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan (Semoga Allah meridhainya). Hal ini jauh apabila dibandingkan dengan penerapan Libasut Taqwa (khususnya pria) pada masa-masa sebelumnya.</p>
<p>Kita bersyukur diajarkan akan hal itu. Dan di mana kita mengenakannya di suatu acara, tidak sunyi orang yang membincangkan dan bertanya, ‘Dari komunitas lembaga manakah Anda ini berasal?’</p>
<p>Selanjutnya pertanyaan itu memancing butiran-butiran dakwah keluar dari lisan kita. Kita dituntut belajar menyampaikan apa yang kita ingat dan ketahui. Lebih tepatnya, memberikan uraian dan penjelasan mengenai Dienul Islam dalam bingkai Birokrasi Ilahiyyah.</p>
<p>Cipinang, 16 Februari 2010.</p>
<p>Lqmn.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Hikmah%20Tasyakur&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F18%2Fhikmah-tasyakur%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/18/hikmah-tasyakur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beri bendera pesan ini Pesan di balik berita (Dubes Arab Batalkan Pernikahan Gara-gara Calon Istri Berjenggot)</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/15/beri-bendera-pesan-ini-pesan-di-balik-berita-dubes-arab-batalkan-pernikahan-gara-gara-calon-istri-berjenggot/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/15/beri-bendera-pesan-ini-pesan-di-balik-berita-dubes-arab-batalkan-pernikahan-gara-gara-calon-istri-berjenggot/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 13:54:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Pesan di balik berita:
Dubes Arab Batalkan Pernikahan Gara-gara Calon Istri Berjenggot
http://id.news.yahoo.com/dtik/20100211/twl-dubes-arab-batalkan-pernikahan-gara-54aecc7.html
Cerita lain saya pernah dengar, bahwa banyak laki-laki yang kelewat batas di Mekah mengelabui orang banyak dengan mengenakan pakaian muslimah dan bercadar rapat untuk melakukan tindak kriminal. Bahkan ada yang masuk ke toilet wanita. Atau Nurdin M. Top dalam penyamarannya sebelum terbunuh sering mondar-mandir ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pesan di balik berita:</p>
<p>Dubes Arab Batalkan Pernikahan Gara-gara Calon Istri Berjenggot<br />
http://id.news.yahoo.com/dtik/20100211/twl-dubes-arab-batalkan-pernikahan-gara-54aecc7.html</p>
<p>Cerita lain saya pernah dengar, bahwa banyak laki-laki yang kelewat batas di Mekah mengelabui orang banyak dengan mengenakan pakaian muslimah dan bercadar rapat untuk melakukan tindak kriminal. Bahkan ada yang masuk ke toilet wanita. Atau Nurdin M. Top dalam penyamarannya sebelum terbunuh sering mondar-mandir ke tempat persembunyiannya dengan menggunakan pakaian bercadar. Cerita ini seolah mengisyaratkan penggunaan cadar dianggap sebagai penyebab masalah atau petaka.</p>
<p>Dalam berita tersebut, janganlah Cadar menjadi alasan penyebab kesialan si Dubes Arab tersebut. Kalau Dubes Arab itu memahami ajaran Islam, tentu melakukan apa yang telah diperintahkan Nabi Saw kepada umatnya dalam meminang untuk calon istrinya. Walaupun seorang wanita itu tertutup seluruh tubuhnya, ia dapat diselidiki seluruh bagian tubuhnya apakah ada cacat atau tidak. Hal ini dilakukan agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Tentu, untuk memeriksanya mesti mengutus orang yang ia percaya dari kaum wanita, bisa adik perempuan atau ibunya (bukan yang bersangkutan).</p>
<p>Amat disayangkan bahwa banyak orang-orang saat ini tidak melakukan demikian karena ia sendiri sudah memeriksa atau &#8216;mencicipinya&#8217; pada masa pacaran. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian. Maka, muncullah fenomena banyak pernikahan yang ada saat ini disebabkan karena &#8216;kecelakaan&#8217; alias hamil duluan. Pernikahan yang semestinya dilakukan sebagai syi&#8217;ar Islam, akhirnya dilakukan untuk menutupi rasa malu.</p>
<p>Sejarah mengungkapkan bahwa setelah hijrah terjadilah perbauran komunitas antara kaum Muhajirin dan Anshar. Banyak pasangan melakukan pernikahan dari kedua belah pihak. Nabi Muhammad Saw mengingatkan kaum Muhajirin waktu itu, &#8216;Jika kalian ingin meminang, hendaklah engkau periksa sebagai khitbah (memastikan pinangan), karena di mata wanita Anshar itu ada tanda!&#8217; Nabi Muhammad Saw mengungkapkan demikian karena sebagian besar wanita Anshar kala itu memiliki bekas cacat pada bagian matanya.</p>
<p>Inilah pelajaran yang diberikan oleh Rasulullah Saw kepada kita agar jangan sampai salah menentukan langkah awal dalam mengarungi bahtera rumah tangga.<br />
Jika nilai-nilai ini tidak dipahami maka peristiwa Dubes tersebut bisa menciptakan opini yang menyesatkan terhadap ajaran Islam, yang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai perintah bercadar bagi wanita muslimah. Yakni, cadar menyebabkan petaka, musibah, atau halangan orang untuk berumah tangga dengan aman dan nyaman.</p>
<p>Seluruh ajaran Islam mengandung peluang untuk disalahgunakan. Semua bergantung kepada niatnya. Jika terjadi kehilangan sandal di masjid sesudah orang-orang menunaikan sholat, tidak bisa disimpulkan bahwa masjid yang menjadi penyebab atau ibadah sholat dikambinghitamkan sebagai penyebab kesialannya.</p>
<p>Laa tabdiila likalimaatillaah, dzaalikad diinul qoyyim. [Tiada perubahan terhadap ketetapan Allah, itulah agama yang teguh (ajaran Islam)]. Kewajiban bercadar tidak bisa dibatalkan oleh opini Dubes tersebut, atau lainnya.</p>
<p>Semoga kita pandai memahami dan mengambil hikmah berita.</p>
<p>Lqmn.</p>
<p>Download Ceramah Ajengan Al-Idrisiyyah:</p>
<p><a href="http://www.4shared.com/get/220313403/8f77827d/Ceramah-Kewajiban_Jumat-UstAFa.html"></p>
<p></a><br />
<a href="http://www.4shared.com/get/215426570/e931bd29/Khutbah_Jumat_-_Hijrah_-_Ust_D.html"></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Beri%20bendera%20pesan%20ini%20Pesan%20di%20balik%20berita%20%28Dubes%20Arab%20Batalkan%20Pernikahan%20Gara-gara%20Calon%20Istri%20Berjenggot%29&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F15%2Fberi-bendera-pesan-ini-pesan-di-balik-berita-dubes-arab-batalkan-pernikahan-gara-gara-calon-istri-berjenggot%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/15/beri-bendera-pesan-ini-pesan-di-balik-berita-dubes-arab-batalkan-pernikahan-gara-gara-calon-istri-berjenggot/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Meniadakan Allah,Rasul dan Syekh Akbar</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/12/jangan-meniadakan-allahrasul-dan-syekh-akbar/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/12/jangan-meniadakan-allahrasul-dan-syekh-akbar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 12:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=679</guid>
		<description><![CDATA[
Untuk para sahabatku di jalan Allah.
Untuk kawan-kawan ku dalam Naungan Birokrasi Ilahiyyah.
Kepada kawan-kawan yang jauh di mata tapi dekat di hati.

Asssalamu’alaikum Wr. Wb.
Sebagian besar murid telah mengetahui bahwa sudah sekian minggu (setengah bulan) lebih Syekh al-Akbar melakukan ‘Uzlah ke pinggir laut, yakni  Cipatujah (Jawa Barat). Beliau ber’azam untuk menetap di sana hingga berangkat Umrah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/02/cahayao.jpeg" alt="cahayao" width="118" height="107" class="alignnone size-full wp-image-680" /><br />
<strong>Untuk para sahabatku di jalan Allah.</p>
<p>Untuk kawan-kawan ku dalam Naungan Birokrasi Ilahiyyah.</p>
<p>Kepada kawan-kawan yang jauh di mata tapi dekat di hati.</p>
<p></strong><br />
Asssalamu’alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Sebagian besar murid telah mengetahui bahwa sudah sekian minggu (setengah bulan) lebih Syekh al-Akbar melakukan ‘Uzlah ke pinggir laut, yakni  Cipatujah (Jawa Barat). Beliau ber’azam untuk menetap di sana hingga berangkat Umrah ke tanah suci (28 Februari).</p>
<p>Banyak yang bertanya sedang apa dan mengapa Syekh al-Akbar melakukan itu semua, sampai-sampai Beliau tidak hadir di pengajian di Jakarta maupun Tasikmalaya. Sebagai pengurus kami tidak bisa menguraikan lebih jauh rahasia apakah di balik apa yang sedang dan akan dikerjakan Beliau di sana.  </p>
<p>Ada beberapa pernyataan Beliau yang sampai kepada kami, berkenaan aktivitas Beliau di pinggir laut baik di Sumur maupun Cipatujah. Beliau berkata, ‘Bapak juga nggak tahu kenapa. Ada apa sih ke laut segala! Padahal enak di rumah, nggak capek. Bapak merasakan seperti ada dorongan kuat kepada Bapak (Syekh al-Akbar) mesti pergi ke sana’.</p>
<p>Beberapa amanat yang Beliau sampaikan kepada saya, selaku sekretaris Beliau, yaitu:</p>
<p>1.       Bapak menginginkan semua murid Bapak menjadi lebih dewasa.</p>
<p>Artinya, kewajiban kita sebagai murid jangan terhalang karena tidak hadirnya Syekh al-Akbar secara fisik. Kita diberikan kepercayaan mengelola majelis Guru kita bersama, bagaimana mempertahankannya agar terus berjalan dengan baik. Bahkan mengembangkannya lebih syi’ar dari sebelumnya.</p>
<p>2.       Jangan meniadakan keberadaan Allah. Jangan meniadakan keberadaan Rasulullah. Jangan meniadakan keberadaan Syekh Mursyid (Syekh al-Akbar).</p>
<p>Artinya, diharapkan kita semua menjadi murid yang senantiasa muroqobah (merasa diawasi) selalu oleh Guru kita di mana pun berada.</p>
<p>3.       Perbanyak dzikir Mulkiyyah: Laa Ilaaha Illallaahu wahdahuu laa syariikalah, dst…………</p>
<p>Dzikir ini untuk mengokohkan keimanan dan ketauhidan kita kepada Allah SWT, sebagai benteng dari kemusyrikan dan keraguan. Inilah dzikir kesukaan Beliau selama ini.</p>
<p>Sering kali ada pertanyaan: Syekh al-Akbar ada nggak di Jakarta? Saya menganalogikan pertanyaan ini dengan pertanyaan ‘Di mana Allah?’ Pertanyaan ini kelihatan hebat, tapi sebenarnya keliru. Karena bagaimana mungkin Allah Yang Menciptakan segala sesuatu dan tempat, ditanya di mana tempatNya. Tempat manakah yang mampu menampung keberadaan Allah?</p>
<p>Kalau ada pertanyaan yang konyol , ‘Mampukah Allah menciptakan sebuah batu yang tidak mampu diangkat olehNya?’ Pertanyaan ini tidak mesti dijawab. Bagaimana tercipta sebuah jawaban dari pertanyaan yang salah?</p>
<p>Oleh karenanya berat sekali untuk menjawab, ‘Syekh al-Akbar ada di mana sekarang?’ Maka kami anggap pertanyaan itu keliru. Dan tidak perlu dijawab. Karena bagi yang membutuhkan Syekh al-Akbar dan mencintainya, pasti akan mencapainya meskipun memakan waktu yang panjang dan upaya yang melelahkan. Banyak orang yang mengharapkan keberkahan Nabi Muhammad Saw melalui Itsar (peninggalan, jejak, napak tilas) Beliau, sehingga dengan penuh kecintaan mereka merawat peninggalan Beliau hingga sekecil-kecilnya seperti pedang, rambut, sandal, kopiah, surban, tapak kaki, dsb.</p>
<p>Itsar Syekh al-Akbar begitu banyak. Meskipun tidak melihat Syekh al-Akbar secara lahir, seseorang yang dilanda kecintaan (mahabbah) akan melihat bekas perjuangan, langkah kehidupan Beliau di Masjid Al-Fattah. &#8216;Jejak-jejak&#8217; Syekh al-Akbar yang utama adalah majelis taklim dan dzikirnya yang tidak mengenal kata &#8216;libur&#8217;. Kalau Syekh al-Akbar dikatakan ‘tidak ada’ maka yang menjawab tidak mengindahkan amanat Beliau untuk &#8216;tidak meniadakan Allah, Rasul dan Guru&#8217;. Kalau dikatakan ada, nanti membuat kecewa dan selisih pendapat, karena begitu datang, ternyata secara fisik Syekh al-Akbar tidak ada.</p>
<p>Syekh al-Akbar mengajarkan kita tentang Angka Arab, khususnya Angka nol ‘0’. Jangan meremehkan dan meniadakan angka Nol ‘0’ karena tidak ada nilainya. Tapi dengan wujud Angka Nol &#8216;0&#8242; itulah muncul nilai yang tak terukur. Maka, jangan meniadakan Syekh al-Akbar di majelisnya meski secara fisik Beliau sedang di Cipatujah sekarang ini. Karena sikap konsisten kita terhadap majelis Beliau, akan melahirkan kualitas yang tiada ternilai dengan apa yang kita cari di dunia selama ini.</p>
<p>Seorang murid baru menceritakan pengalamannya mengaji. Ia sering merenung dan bertafakkur. Sering ia mengalami peristiwa yang membuatnya heran dan terkagum-kagum setelah ia menjadi murid Syekh al-Akbar Muhyiddin. Sebelum ia berangkat dari rumah terbelenggulah ia akan sebuah pertanyaan yang teramat sulit dijawab olehnya. Kemudian ia datang ke majelis Syekh al-Akbar bermaksud menanyakan masalah yang sedang dihadapinya. Tapi apa yang terjadi? Permasalahan yang membuatnya gundah ternyata terpecahkan setelah ia mendengar ceramah Syekh al-Akbar ketika itu. Sebelum pertanyaan itu dikemukakan, sudah terjawab. Hal itu ia alami berkali-kali. [Saya berkata dalam hati, kejadian semisal ini sudah terjadi sebelum2nya].</p>
<p>Kemudian ia melanjutkan ceritanya. Suatu ketika ia mengalami permasalahan lagi. [Maklum, ia termasuk orang yang suka berinteraksi dengan masyarakat luas, dan suka memberikan bantuan pengobatan lahir batin kepada orang lain]. Kali ini ia mengungkapkan bahwa Syekh al-Akbar terus memberikan bimbingan kepada murid-muridnya, meskipun yang sedang ceramah (mengajar) itu adalah Ustadz atau Ajengan. Sebab apa yang ia alami sama dengan kejadian sebelumnya. Ia mendapatkan jalan keluar atau jawaban dari pertanyaan yang mengganjal dalam dirinya melalui lidah para Ustadz atau Ajengan yang sedang mengajar di Majelis Syekh al-Akbar.  Kejadian ini pun terjadi berkali-kali. Hal ini membuatnya yakin bahwa pengajian di Masjid Al-Fattah senantiasa dibimbing oleh Syekh al-Akbar. Pengalaman ini membuatnya tidak memilah-milah apakah Syekh al-Akbar yang mengisi pengajian atau bukan.</p>
<p>Saya memperhatikan betapa banyak murid atau orang yang mengalami peristiwa atau informasi ruhani hanya mendongkrak keyakinannya dalam sekejap saja. Tapi tidak menyentuh aspek lahir secara konsisten yang menunjukkan ia bertambah yakin kepada berita ruhani itu. Informasi itu malah menambah gairah dan semangat murid-murid yang sudah ‘betah’ (datang riutin) di majelis Syekh al-Akbar. Apakah mungkin orang yang mendapat berita ruhani itu merasa dalam dirinya memiliki keistimewaan sehingga dirinya lah yang mendapatkan informasi itu, bukan orang lain.</p>
<p>Sama halnya ketika informasi Syekh al-Akbar Muhyiddin melakukan Uzlah (mengasingkan diri) dan tidak datang ke majelis taklim di Jakarta maupun Tasikmalaya hingga akhir Februari, membuat murid yang menerima informasi ini bertambah alasan untuk tidak datang ke Batu Tulis atau Pagendingan. Jadi, apa manfaat informasi itu?</p>
<p>Kalau sekiranya informasi ruhani tidak menyebabkan kebaikan bagi yang menerimanya tapi malah membuat kesombongan diri, maka lebih baik informasi ruhani itu tidak diberikan. Kalau sekiranya informasi Uzlah Syekh al-Akbar menjadikan alasan ia tidak mengaji, lebih baik informasi tersebut juga tidak diberikan.</p>
<p>Syekh al-Akbar beberapa waktu yang lalu mengungkapkan, &#8216;Rasa-rasanya apa yang Bapak (Syekh al-Akbar) sampaikan sudah cukup. Semuanya sudah jelas dan gamblang. Tidak ada keraguan&#8217;. Pernyataan ini mengindikasikan telah banyak yang disampaikan Beliau kepada kita. Tinggal kita yang menyikapinya secara dewasa dan bijaksana. Dan Beliau juga mengungkapkan, &#8216;Tinggal satu harapan Bapak saat ini, &#8216;Terbitnya buku Sesat dan Menyesatkan!&#8217;</p>
<p>Marilah kita dewasakan diri kita semua sebagai murid Beliau. Hijrahkan diri dan apa yang kita miliki, cepat maupun perlahan kepada perjuangan Beliau dalam menegakkan Tali Birokrasi Ilahiyyah. Semoga kita dan keluarga kita termasuk orang-orang yang diselamatkan di hadapan Allah &#8216;Azza wa Jalla. Amiin.</p>
<p>Jakarta, 12 Februari 2010</p>
<p>Luqmana, Sekum Al-Idrisiyyah.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Jangan%20Meniadakan%20Allah%2CRasul%20dan%20Syekh%20Akbar&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F12%2Fjangan-meniadakan-allahrasul-dan-syekh-akbar%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/12/jangan-meniadakan-allahrasul-dan-syekh-akbar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Shalat Lidaf`il Bala(Malam Rabu wakasan)</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/10/shalat-lidafil-balamalam-rabu-wakasan/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/10/shalat-lidafil-balamalam-rabu-wakasan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 13:00:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<category><![CDATA[Rabu wakasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Aslkm Wr. Wb,
Diberitahukan kepada seluruh jama&#8217;ah Al-Idrisiyyah bahwa pelaksanaan shalat Lidaf&#8217;il Bala&#8217; Insya Allah jatuh pada malam Rabu, 9 Feb 2010.
Bagi jama&#8217;ah Jabodetabek, pelaksanaannya di Masjid Jami&#8217;e Al-Fattah, ba&#8217;da Maghrib berjama&#8217;ah.
Bagi jama&#8217;ah di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya, pelaksanaannya pada pagi hari (ba&#8217;da Isyraq/Dhuha&#8217;) di hari Rabu, tanggal 10 Feb 2010
di Masjid Al-Fattah Pegendingan, Cisayong Tasikmalaya.
Demikian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aslkm Wr. Wb,</p>
<p>Diberitahukan kepada seluruh jama&#8217;ah Al-Idrisiyyah bahwa pelaksanaan shalat Lidaf&#8217;il Bala&#8217; Insya Allah jatuh pada malam Rabu, 9 Feb 2010.</p>
<p>Bagi jama&#8217;ah Jabodetabek, pelaksanaannya di Masjid Jami&#8217;e Al-Fattah, ba&#8217;da Maghrib berjama&#8217;ah.</p>
<p>Bagi jama&#8217;ah di wilayah Tasikmalaya dan sekitarnya, pelaksanaannya pada pagi hari (ba&#8217;da Isyraq/Dhuha&#8217;) di hari Rabu, tanggal 10 Feb 2010</p>
<p>di Masjid Al-Fattah Pegendingan, Cisayong Tasikmalaya.</p>
<p>Demikian pengumuman ini, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Sekretariat Al-Idrisiyyah.</p>
<p>Lampiran 1.</p>
<p>بسم الله الر حمن الرحيم</p>
<p>Di ambil dari Kitab Kanzun Najah1, karangan Syekh Abdul Hamid Kudus [lihat lampiran], yang pernah mengajar di Masjidil Haram Mekah al Mukaromah.</p>
<p>(Faidah):</p>
<p>Telah berkata sebagian Ulama ‘Arifin yang Mukasyafah bahwasanya di setiap tahun itu turun 300.000 Bala’. Dan 20.000 rupa-rupa Bala’ itu di antaranya turun pada malam Rabu terakhir di bulan Shafar.</p>
<p>Dianjurkan pada malam itu sholat 4 raka’at. Pada setiap raka’at sesudah Fatihah membaca Surat al Kautsar (إنآ أعطيناك الكوثر) 17x (tujuh belas kali), Surat al Ikhlas (قل هو الله أحد) 5x (lima kali), Surat al Falaq &amp; an Nas masing-masing sekali (1x). Barang siapa melaksanakan sholat tersebut niscaya dipelihara Allah Ta’ala dari Bala’ tersebut dan dijauhkan daripadanya hingga setahun penuh.</p>
<p>Waktunya adalah pada waktu Dhuha’ atau pada malam hari, dengan niat Sholat Daf’il Bala’:<br />
أُصَلِّيْ سُنّةً لِّدَفْعِ الْبَلَآءِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ للهِ تَعَالىٰ أَللهُ أَ كْبَرُ</p>
<p>“Ushollii Sunnatan Lidaf’il Balaa’ Arba’a Roka’aatin lillaahi Ta’aalaa, Alloohu Akbar”.</p>
<p>Sesudah salam membaca do’a ini:</p>
<p>بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ, وَصَلىَّ اللهُ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ ألِه وَصَحْبِه وسَلَّمَ, وَبِحَقِّ مُرَبِّ رُوْحِنَا وَمُرْشِدِنَا الشَّيْخِ اْلأَكْبَرِ مُحْيِ الدِّيْنِ مُالشَّيْخِ حَمَّدْ دَاودْ دَحْلاَنَ بْنِ مُحَمَّدْ دَحْلاَنَ بْنِ عَبْدِالْفَتَّاحِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ, وَجَمِيْعِ مَشَايِخِ أَهْلِ سِلْسِلَةِ الطَّرِيْقَةِ اْلإِدْرِيْسِيَّةِ إِلىَ الْمُنْتَهٰى رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ.</p>
<p>اَللّهُمَّ ادْفَعْنَا وَاصْرِفْنَا وَعَنْ أَهْلِنَا وَمُحِبِّيْنَ وَمَنْ أَحْبَبْنَاهُمْ وَعَنْ جَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْبَلاَيَا وَاْلأفَاتِ وَاْلوَبَآءِ وَالطَّاعُوْنَ وَالْفِتَنِ, وَمِنْ شَرِّطَوْغِ الْغِيْلاَنِ وَمِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ وَاْلكُفَّارِ وَالْعَفَارِيْتِ وَالشَّيَاطِيْنِ وَالسَّلاَطِيْنِ وَاْلأَعْرَبِ وَمِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ اللهُ تَعَالىٰ مَا لاَ يَدْفَعُه وَلاَ يَصْرِفُه غَيْرُكَ</p>
<p>اَللّهُمَّ  يَاشَدِيْدَ القُوٰى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ بِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ إِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لآ إِلٰهَ إِلاَّ أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّهُمَّ بسِرّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّه وَأَبِيْهِ إِكْفِنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمَ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ, وَصَلَّى اللهُ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ أٰلِه وَصَحْبِه وَسَلَّمَ.</p>
<p>Bismillaahirrohmaanir rohiim. Washollallaahu ’alaa Sayyidinaa Muhammadiniw wa’alaa aalihii washohbihii wasallam. Wabihaqqi Murobbi Ruuhinaa wa Mursyidinaa  as-Syaikhil Akbar Muhyiddin Muhammad Daud Dahlan ibni Muhammad Dahlan ibni ’Abdil Fattah Rodhiyallaahu ’anhu, wajamii’i masyaayikhi ahli silsilatith-thariiqotil Idriisiyyah, ilal muntahaa rodhiyallaahu ’anhum ajma’iin</p>
<p>Allaahummad fa’naa washrifnaa wa’an ahlinaa wamuhibbiinaa waman ahbabnaahum wa’an jamii’il muslimiina walmuslimaat, min jamii’iI balaayaa wal aafaat, wal wabaa-i wath-thoo’uuna walfitan, wamin syarri thowghil ghiilaani, wamin syarril jinni wal insi walkuffaari wal’afaariiti wasy-syayaathiini wassalaathiini wal a’rob, wamin syarri maa kholaqollaahu ta’aalaa maa laa yadfa’uhuu walaa yashrifuhuu ghoyruk.</p>
<p>Allaahumma yaa syadiidal quwaa wayaa syadiidal mihaal, yaa ’aziizu dzallat bi’izzatika jamii’u kholqika, ikfinii min jamii’i kholqika, yaa muhsinu yaa mujmilu yaa mutafadh-dhilu yaa mun’imu yaa mukrimu, yaa mal laa-ilaaha illaa anta birohmatika yaa arhamar roohimiin. Alloohumma bisirril hasani wa-akhiihi wajaddihii wa abiihi. Ikfinii syarro haadzal yawma wa maa yanzilu fiihi, yaa kaafii fasayakfiiikahumullaah, wahuwas-samii’ul ’aliim. Wahasbunallaahu wani’mal wakiil. Walaa hawla walaa quwwata illaa billaahil ’aliyyil ’azhiim. Washollallaahu ’alaa Sayyidinaa Muhammadiniw wa’alaa aalihii washohbihii wasallam.</p>
<p>Dengan Nama Allah Yang Pengasih lagi Penyayang. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Pemimpin kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau. Dan dengan Haq (Kebenaran) pembimbing ruhani dan penunjuk (mursyid) kami Muhyiddin Asy-Syekh Al-Akbar Muhammad Daud Dahlan bin Muhammad Dahlan bin Abdul Fattah Ra. Dan seluruh Guru-guru kami dalam silsilah thariqat Idrisiyyah hingga akhirnya (semoga Allah meridhai mereka semua).</p>
<p>Yaa Allah, hindarkanlah dan lindungi diri kami, keluarga kami, yang mencintainya dan orang-orang yang dicintai mereka, juga seluruh kaum muslimin dan muslimat dari segala bencana, malapetaka dan wabah penyakit, dari penyakit Tho’un dan menular serta dari segala fitnah, dari kejelekan syetan (iblis) yang banyak tipu dayanya, dari segala kejahatan bangsa jin dan manusia, orang-orang yang kafir, jin Ifrit, syetan, penguasa (yang zhalim), orang-orang badui, dan dari kejelekan apa-apa yang telah Allah SWT ciptakan yang gangguannya tidak ada yang mampu mengelakkan dan menyingkirkannya selain dengan pertolongan-Mu. Sholawat dan salam terlimpahkan kepada pemimpin kami, Muhammad SAW, seorang Nabi yang Ummi (tidak mampu baca tulis) beserta keluarga dan para sahabatnya.</p>
<p>Wahai, Zat Yang Kuat, Yang Menundukkan, wahai Zat Yang Perkasa tundukkanlah seluruh makhluk-Mu dengan Keagungan-Mu. Wahai Zat Yang Memiliki Kebaikan, Yang Meliputi, Yang Memberi Keutamaan, Yang Memberi Kenikmatan, Yang Memuliakan. Wahai Zat yang tiada Sembahan yang layak disembah melainkan Engkau, dengan rahmat-Mu wahai Zat yang Pengasih di antara pengasih.</p>
<p>Yaa Allah dengan rahasia (keutamaan) Hasan Ra. dan saudaranya (Husain) Ra., kakeknya (Nabi Muhammad Saw). Lindungilah kami dari keburukan pada hari (Rabu Wakasan) ini dan apa yang diturunkan padanya. Wahai Zat Yang mencukupi, maka mereka dicukupi oleh Allah, sedangkan Allah itu Mendengar lagi Mengetahui. Kami bergantung pada Allah sebagai sebaik-baiknya Wakil segala urusan. Dan tiada daya dan kekuatan melainkan dengan Kekuatan Allah Yang Tinggi lagi Agung. Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Pemimpin kita Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p><strong>RALAT</strong><br />
Rekan2 sekalian.</p>
<p>Ada beberapa tulisan di atas yang di ralat oleh penulis:</p>
<p>1. Tulisan Arab do&#8217;a ba&#8217;da sholat Rabu Wakasan, banyak kekeliruan misalnya حمد  seharusnya محمد.</p>
<p>Hal ini terjadi karena ketika dicopy paste terjadi perubahan kondisi penulisan right (untuk tulisan Arab) menjadi left.</p>
<p>Seharusnya saya kirim dalam bentuk pdf agar formatnya tidak berubah.</p>
<p>2. Tulisan berikutnya tentang Jangan Meniadakan ……..</p>
<p>Tertulis: Itsar seharusnya Atsar.</p>
<p>Semoga memakluminya.( Ustd.Lukmana amir)</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Shalat%20Lidaf%60il%20Bala%28Malam%20Rabu%20wakasan%29&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F10%2Fshalat-lidafil-balamalam-rabu-wakasan%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/10/shalat-lidafil-balamalam-rabu-wakasan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agama kalian,Agama yang Satu</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/07/agama-kalianagama-yang-satu/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/07/agama-kalianagama-yang-satu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Feb 2010 03:29:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<category><![CDATA[agama yang satu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[
 Ceramah : Asy-Syekh Al-Akbar Muh. Daud Dahlan
Pada pertemuan dengan Mursyid Tarekat Syathariyyah,
Tuangku Mudo Syekh Faishal Hamidi
Palembang, Januari 2007
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Negara kita sekarang menghadapi banyak persoalan, di antaranya yang tak bisa dielakkan adalah kehendak Allah menumpahkan musibah di berbagai wilayah. Sejak adanya tsunami terbesar di dunia, gempa bumi, kelangkaan sumber energi, krisis moral para tokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/02/majlis-300x225.jpg" alt="majlis" width="300" height="225" class="alignnone size-medium wp-image-673" /><br />
 Ceramah : Asy-Syekh Al-Akbar Muh. Daud Dahlan<br />
Pada pertemuan dengan Mursyid Tarekat Syathariyyah,<br />
Tuangku Mudo Syekh Faishal Hamidi<br />
Palembang, Januari 2007</p>
<p>Assalamu’alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Negara kita sekarang menghadapi banyak persoalan, di antaranya yang tak bisa dielakkan adalah kehendak Allah menumpahkan musibah di berbagai wilayah. Sejak adanya tsunami terbesar di dunia, gempa bumi, kelangkaan sumber energi, krisis moral para tokoh atau petinggi Negara, hingga jatuhnya pesawat. Adanya larangan beroperasi kapal-kapal di berbagai wilayah perairan Indonesia belakangan ini saja menandakan kekhawatiran yang luar biasa terhadap gejala alam yang mengalami banyak perubahan akhir-akhir ini. Semua itu adalah tanda-tanda kemurkaan Allah terhadap negeri ini.<br />
Di sisi lain umat Islam berdiam diri dengan usaha umat lain yang tak henti-hentinya mengadakan provokasi terhadap generasi muda Islam, baik segi budaya atau pemikiran. Mereka mencekoki dengan budaya yang buruk, mendengungkan prinsip persamaan hak antara pria dan wanita, pemikiran yang menyesatkan bahwa manusia itu berasal dari monyet. Termasuk kebijakan demokrasi. Padahal kebijakan demokrasi itu merupakan kebijakan alternatif.</p>
<p>Umat Islam menghadapi kondisi yang sangat dilematis. Segala segmen kehidupan umumnya sudah dikuasai oleh orang-orang di luar Islam. Dari sisi ekonomi, militer, politik, dsb.</p>
<p>Sikap umat Islam menghadapi umat lain menjadi serba salah. Jika umat Islam bersikap lembut, umat lain mempengaruhi aqidahnya. Jika bersikap keras akan menyebabkan umat lain mempertanyakan visi ajaran Islam sebenarnya.</p>
<p>Umat Islam (bangsa Indonesia) tidak lagi menaruh kepercayaan dengan individu lainnya. Antara satu golongan dengan golongan yang lain saling menuding kesesatan. Akhirnya umat Islam tidak bisa berada dalam satu kepemimpinan karena masing-masing memberikan travel warning ‘hati-hati dengan kelompok ini dan itu!’.</p>
<p>Kasus Idul Fitri hingga Idul Adha yang pelaksanaan berlainan menunjukkan keprihatinan umat Islam yang tidak mempunyai seorang pemimpin yang menyatukan keputusan umat. Adanya pilihan (berdasarkan sabda Nabi Saw) dalam menentukan awal / akhir Ramadhan seharusnya membuat umat ini bersikap toleran terhadap perbedaan hasil pengamatan. Namun bukan dengan adanya perbedaan itu kita bersikukuh menilai pendapat golongan lain keliru. Adanya pilihan menunjukkan relativitas pendapat. Di sinilah kita memerlukan sosok yang menentukan pilihan tersebut, bukan masing-masing kelompok Islam.</p>
<p>Ketentuan waktu dalam sebulan (dalam konteks penanggalan Hijriyah) antara kemestian 29 atau 30 hari, bukanlah hal yang mutlak. Tidak mesti terjadi perbedaan dalam penentuan tersebut jika perbedaan itu bisa ditentukan dengan suatu kebijakan (karena masih relatif) yang bersifat musyawarah. Namun karena masing-masing merasa menjadi pemimpin, dan suatu kepemimpinan tidak percaya dengan kepemimpinan lainnya - apalagi setiap kepemimpinan tidak memiliki hak otoritas terhadap kepemimpinan lainnya - maka terjadilah sikap perpecahan umat dalam mengambil berbagai keputusan.<br />
Padahal umat ini adalah umat yang satu,</p>
<p>Wa-inna haadzihii ummatukum ummataw waahidatan wa ana robbukum fattaquun.<br />
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. (Q.S. Al-Mu’minun: 52)</p>
<p>Kemudian mereka berpecah belah, karena masing-masing kelompok bangga terhadap apa yang ada pada dirinya. Bangga terhadap ilmunya, pendapatnya, hartanya, kedudukan yang telah dicapainya, dan prestasi duniawi lainnya.</p>
<p>Fataqoth-tho’uu amrohum zuburoo, kullu hizbim bimaa ladayhim farihuun.<br />
Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka berpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Q.S. Al-Mu’minun: 53)</p>
<p>Memang perbedaan itu sunnatullah. Tapi, apakah hal itu merupakan sunnatullah yang baik?! Karena setelah itu Allah menerangkan akibat mereka berpecah belah,</p>
<p>Fadzarhum fii ghomrotihim hattaa hiin.<br />
Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu”. (Al-Mu‘minun: 54)</p>
<p>Ungkapan ini menunjukkan ancaman, bukan rahmat! Tidak hanya umat Islam, umat lain pun diungkapkan berpecah belah. Rasulullah Saw bersabda,</p>
<p>Sesungguhnya Bani Israil berpecah belah menjadi 71 golongan, dan umatku akan berpecah menjadi 72 golongan . Semuanya masuk ke dalam api neraka melainkan satu golongan saja, yakni jama’ah (yang bersatu dalam barisan Birokrasi Ilahiyyah). (Sunan Ibnu Majah: Juz 11)<br />
Apakah umat Islam tidak lebih parah perpecahannya dibanding umat lainnya (berdasar hadits di atas)?<br />
Tidak ada kelompok umat manapun yang tidak ingin ibadahnya tidak diterima Allah SWT. Bahkan semua amalnya ingin diterima.<br />
Perpecahan ini salah satunya disebabkan oleh tidak mau saling mendengar. Meskipun mau mendengar belum tentu mau menerima. Masing-masing beranggapan bahwa apa yang dipegang atau diamalkan selama ini adalah merupakan kebenaran.<br />
Adolf Hitler sendiri menyatakan, apabila keburukan / kekeliruan itu diungkapkan seribu kali maka ia akan menjadi sebuah kebenaran.<br />
Sama seperti umat lainnya. Sekarang, maukah kita mau mendengar?<br />
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy yasma’uun.<br />
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang mau mendengar.<br />
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy ya’qilun.<br />
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang berakal.<br />
Berakal saja tidak cukup.<br />
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy yatafakkarun.<br />
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang mau berfikir.<br />
Berakal saja tidak cukup.<br />
Innafii dzaalika la-aayaatil liqowmiy yattaquun.<br />
Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar menjadi tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang bertaqwa.</p>
<p>************</p>
<p>Kultus dengan bersekutu itu berbeda. Kultus itu artinya mendewa-dewakan, mempertuhankan, mengidolakan. Yang dilarang oleh Rasulullah itu adalah menyetarakan Allah dengan makhluk dan atau menyetarakan makhluk dengan Allah.<br />
Karena kita tidak mengerti arti Tuhan maka kita tidak bisa menilai perkara dengan ukuran semestinya. Tuhan dalam bahasa Arab adalah Rabb, yang mengandung arti Pembangun, Pembimbing, Pelindung, Pemelihara.<br />
Kita semua sudah memiliki sifat ketuhanan. Wanafakhtu mir ruuhii (Dan Aku tiupkan Ruh-Ku [ke dalam jasad yang telah disempurnakan kejadian ketika awal penciptaan manusia])<br />
Nilai-nilai inilah yang harus kita kumandangkan agar tidak terjadi benturan.<br />
Mengapa menyebut ‘Sayyidina’ tidak boleh, sedangkan dirinya sendiri menghendaki adanya gelar di samping namanya. Allah memberi beliau gelar ‘habibullah’.</p>
<p>************</p>
<p>Huruf maupun imbuhan dalam Al-Quran memiliki kedalaman ilmu. Berbeda bunyi akan berbeda pula maknanya. Hal ini dapat kita simak tentang ayat yang berhubungan dengan perkara amal yang dilakukan oleh orang-orang</p>
<p>Ketika kita mendengar amal sholih seolah-olah kita menyandarkan kesamaan dengan makna Amilush-sholih. Keduanya adalah berbeda. Perhatikan ayat berikut:<br />
Dan bila dikatakan kepada mereka:&#8221;Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi &#8220;. Mereka menjawab: &#8220;Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.&#8221; (Q.S. Al-Baqarah: 11)<br />
Berbeda makna al-Bait dengan Bait, Rijal dengan ar-Rijal.</p>
<p>Orang kafir pun menyatakan bahwa mereka melakukan amal shalih. Di sinilah Allah membedakan perbuatan mereka (orang kafir) dengan orang yang lurus jalannya dengan mencantumkan alif lam di depannya yang menandakan kekhususan (tertentu).</p>
<p>Amilush-shalih itu adalah perbuatan yang mengikuti Uswatun hasanah Utusan Allah.<br />
Sesungguhnya telah ada pada Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu bagi orang yang mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab: 21)</p>
<p>Al-Idrisiyyah sebelumnya juga sama seperti kelompok tarekat lainnya, yakni mendasari ajarannya dengan pendapat-pendapat ulama terdahulu. Padahal Dienul Islam itu tidak cukup hanya dengan ditafsirkan.</p>
<p>Kita harus kembali kepada khithah, yakni berpedoman kepada Al-Quran. Jika kita memahami lebih dalam, ternyata kandungan ajarannya tidak bersifat abstrak tapi real (nyata), bisa dicerna oleh akal.<br />
Adanya persamaan dan perbedaan di antara kita, mari kita berangkat dari persamaan terlebih dahulu. Kita berbenah menuju ibadah yang lurus. Sebagaimana do’a yang diajarkan kepada kita setiap shalat. Ihdinash-shirootol mustaqiim. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalannya siapa? Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.</p>
<p>Siapakah orang yang mendapatkan anugerah jalan yang lurus itu? Merekalah orang-orang pilihan, para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan orang-orang shalih.<br />
Mengingat zaman kenabian sudah berlalu maka lentera jalan yang lurus itu dipegang oleh para Shiddiqin (orang-orang yang shiddiq).<br />
Shiddiq berbeda dengan Haq. Haq artinya benar, dan Shiddiq artinya lurus, tepat atau akurat (pas). Bahasa keren-nya proporsional.</p>
<p>Benar belum tentu akurat. Belum tentu setiap Haq itu bersifat Shiddiq. Akan tetapi setiap Shiddiq itu adalah haq. Sama halnya belum tentu setiap Nabi adalah Rasul.<br />
Seusai membaca Al-Quran, seorang Qari biasa mengucapkan ‘Shodaqallaahul ’Azhiim’. Artinya bukan ‘Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya’, akan tetapi ‘Tepatlah Allah Yang Agung’.<br />
Shadaq itu mengandung kecermatan dan ketelitian.</p>
<p>“ …. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi maupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Q.S. Yunus: 61)</p>
<p>Pemaparan ini bertujuan untuk mengishlahkan (mendamaikan) antara kelompok Islam (tarekat) satu dengan lainnya, atau umat Islam dengan umat lainnya. Didasari keyakinan bahwa Islam itu bukan diperuntukkan bagi umat Islam saja, tapi untuk seluruh umat manusia.<br />
Baik orang mukmin maupun kafir semuanya dalam genggaman, asuhan dan bimbingan Allah. Sebab itulah dengan adanya ketentuan berpasangan atas segala kejadian, maka orang kafir akan menjadi ujian bagi orang yang beriman, begitu juga sebaliknya. Kalau masing-masing egois tentu perseteruan tidak akan ada akhirnya.</p>
<p>Masalah ini harus didengungkan dan direalisasikan agar tidak menimbulkan perseteruan antara kita dengan mereka (non muslim). Agar tercipta kedamaian dalam bingkai ridha Allah.<br />
Buat apa damai jika tidak mendapat ridha Allah. Damai itu ada baik dan buruknya, begitu pula peperangan. Salah satu hikmah terjadi peperangan mengurangi jumlah manusia yang bertambah demikian pesat. Sehingga untuk menghidupi manusia yang begitu banyak bumi mengalami korban eksploitasi manusia yang tak kunjung henti.</p>
<p>Saat damai populasi manusia tak terkendali. Bertambah banyak manusia menyebabkan hutan habis dibabat untuk lahan produksi. Sawah berubah menjadi pemukiman penduduk, tempat reproduksi. Hal yang kita inginkan adalah kedamaian dalam ridha Allah, atau peperangan dalam ridha Allah.<br />
Semua perkara bisa menjadi ujian bagi kita. Jangan berkata bahwa nikmat itu bukan ujian. Bahkan kita sering tidak lulus ketika kita diuji nikmat.</p>
<p>Sebagai pemaparan, saat kita menerima gaji. Apakah kita akan berfikir saat menerima uang, ‘Uang ini untuk membeli makanan yang halal atau yang haram, membeli pakaian yang mengikuti Sunnah Rasul atau pakaian yang mengikuti tradisi nenek moyang’. Jadi, walaupun kita menerima nikmat dari Allah, belum tentu Allah ridha kepada kita. Inilah yang harus kita pahami bersama.<br />
Kita harus banyak melatih (mengevaluasi) diri. Medianya adalah dzikrullah. Ada dzikir kepada Zat Allah, ada dzikir kepada Ilmu-Nya dan ada dzikir kepada Af’al-Nya.<br />
Dengan dzikir ini diharapkan ketika kita menjalani kehidupan di dunia ini tidak kehilangan kendali, dan tetap berpegang kepada Ittabi’uu maa anzallaah. Ia tidak lupa kepada Allah meski ke manapun perginya, karena sudah dilatih dengan dzikrullah.</p>
<p>Inilah kebijakan Al-Islamiyyah yang dipelopori oleh Al-Idrisiyyah (nama hanya bersifat kebetulan). Kami berharap didukung oleh jama’ah Syatthariyyah (umat Islam lainnya) yang berada di hadapan kami saat ini. Rasulullah Saw sendiri memerlukan dukungan para sahabatnya yang lain. Mudah-mudahan kedatangan kami kemari sekaligus mendapatkan sahabat yang baru.<br />
Kita sebagai umat Islam jangan merasa diprovokasi atau dicumbu rayu. Semuanya harus diterima atau dilaksanakan dengan kesadaran, bukan dengan paksaan. Bukan karena dipuji atau ‘dicubit’. Menjalankan ajaran Islam juga harus dengan kesadaran.</p>
<p>Nabi Ibrahim As mencontohkan perilaku yang bijaksana kepada kita ketika datang perintah Allah untuk menyembelih putranya, ‘Fanzhur maa dzaa taroo!’ Pikirkan olehmu bagaimana pendapatmu?<br />
Pada saat kita berposisi dalam kebenaran jangan bersikap malu, dan ketika kita pada posisi salah jangan ‘cengeng’ atau mudah tersinggung. Oleh karenanya kita harus lebih banyak belajar.<br />
Untuk menjelaskan ini memerlukan waktu yang tidak sedikit. Namun sayangnya kesempatan berbicara mengenai hal ini sangat terbatas waktunya.<br />
Mudah-mudahan pertemuan kita ini membawa hikmah dan manfaat besar bagi kita semua.</p>
<p>Wassalamu’alaikum Wr. Wb. di ambil darihttp://www.al-idrisiyyah.com</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Agama%20kalian%2CAgama%20yang%20Satu&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F07%2Fagama-kalianagama-yang-satu%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/07/agama-kalianagama-yang-satu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wujud Ruhani Sulthan Awliya</title>
		<link>http://tasik-news.com/2010/02/04/wujud-ruhani-sulthan-awliya/</link>
		<comments>http://tasik-news.com/2010/02/04/wujud-ruhani-sulthan-awliya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 13:17:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Birokrasi ilahiyyah]]></category>

		<category><![CDATA[wujud]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tasik-news.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[
Sudah lama tidak terdengar informasi ruhaniyah mengenai tanda-tanda kekhalifahan Syekh al-Akbar Muhyiddin Syekh Muhammad Daud Dahlan. Kali ini berasal dari salah seorang murid yang berasal dari tetangga Masjid Al-Fattah di Jl Batu Ceper.
Ia menuturkan pengalamannya yang baru terjadi kemarin. Ada seorang anak temannya yang sakit. Anak tersebut ada yang ‘menumpangi’ atau diganggu makhluk halus. Ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://tasik-news.com/files/2010/02/sulthan.jpg" alt="sulthan" width="101" height="76" class="alignnone size-full wp-image-670" /><br />
Sudah lama tidak terdengar informasi ruhaniyah mengenai tanda-tanda kekhalifahan Syekh al-Akbar Muhyiddin Syekh Muhammad Daud Dahlan. Kali ini berasal dari salah seorang murid yang berasal dari tetangga Masjid Al-Fattah di Jl Batu Ceper.</p>
<p>Ia menuturkan pengalamannya yang baru terjadi kemarin. Ada seorang anak temannya yang sakit. Anak tersebut ada yang ‘menumpangi’ atau diganggu makhluk halus. Ia mengalami karasukan berkali-kali yang menyusahkan kedua orang tuanya. Setelah mendapatkan saran oleh seseorang, maka ia bawa kepada salah seorang Ustadz yang dipandang memiliki kelebihan berintraksi dengan yang ghaib dan bisa mengobati anak kawannya tersebut.</p>
<p>Saat mengadakan terapi terhadap anak tersebut, sang Ustadz sempat berkata kepada si murid baru ini, ‘Tolong do’akan saya, mudah-mudahan anak ini bisa disembuhkan!’ ‘Insya Allah,’ jawab si murid yang tidak tahu menahu soal pengobatan.</p>
<p>Akhirnya si murid yang baru beberapa hari ditalqin ini ikut mendampingi sang Ustadz yang termasuk jama’ah Naqsabandi itu. Si murid berdzikir dengan bacaan yang ia bisa (hafal). Katanya, ‘Saya waktu itu hanya membaca, ‘Laa Ilaaha Illallaah Muhammadur Rosuulullaah fii kulli lamhatiw wanafasin ‘adada maa wasi’ahuu ‘ilmullaah’ saja berulang-ulang.</p>
<p>Ia sempat menyaksikan si Ustadz melakukan atraksi seperti main pencak, berusaha mengusir makhluk asing yang berada di dalam tubuh anak itu. Saat ia melakukan atraksi itu tiba-tiba lampu mati. Seluruh rumah yang berada di lingkungan komplek itu mati semua. Sedangkan perumahan yang berada di seberang rumah tidak. Ketika itu terdengar Ustadz berkata, ‘Ampun Syekh ….!’</p>
<p>Beberapa saat lampu menyala kembali beserta listrik yang berada di lingkungan rumah itu. Anak yang sakit diganggu makhluk halus itu pun akhirnya pulih, sehat kembali.</p>
<p>Setelah keluar dari rumah, Ustadz tadi bertanya kepada si murid, ‘Itu tadi guru kamu ya?’ Si murid tidak mengerti apa yang Ustadz tanyakan. ‘Memang Ustadz tadi melihat apa?’ Tanya si murid. Ustadz dari Kemayoran ini berkata, ‘Guru kamu tadi hadir, tubuhnya setinggi langit. Kepalanya hingga ke ujung langit dan selendangnya menjuntai hingga ke bumi. Kalau Beliau muncul, seluruh makhluk halus tidak ada yang berani mendekat. Siapa nama Gurumu itu?’</p>
<p>‘Syekh al-Akbar Muhammad Daud Dahlan. Saya baru menjadi murid Beliau!’ Jawab orang Batu Ceper ini.</p>
<p>Itulah ruhani Sulthan Awliya, yang meliputi keberadaan bumi dan langit.</p>
<p>Jakarta 29 Januari 2010</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?sitename=TASIK-NEWS.com&amp;siteurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F&amp;linkname=Wujud%20Ruhani%20Sulthan%20Awliya&amp;linkurl=http%3A%2F%2Ftasik-news.com%2F2010%2F02%2F04%2Fwujud-ruhani-sulthan-awliya%2F"><img src="t-news bookmark" alt="Share/Save/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tasik-news.com/2010/02/04/wujud-ruhani-sulthan-awliya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
